Gelisah tergolong penyakit batin, istimewanya penyakit ini dapat
menyerangsiapa saja, dari golongan apa, dan bangsa apapun. Bila
dibandingkan dengan rasa takut, daerah operasinya lebih luas. Sebab
orang yang pemberani, tak mungkin diserang oleh rasa takut. Atau orang
yang mempunyai obat penangkal takut juga tidak akan dijamahnya. Umpama
orang yang pernah mengerjakan perbuatan salah sudah pasti tidak akan
takut untuk dituntut. Begitu pula seorang yang kaya, pasti tidak akan
takut kelaparan, dan sebagainya. Tetapi walaupun benar, kaya, pandai,
jujur, dan sebagainya pasti akan dilanda perasaan gelisah.
Penyakit hati yang satu ini berbeda dengan penyakit-penyakit yang ada di
dalam tubuh kita. Sebab tiada kuman seperti penyakit biasa, obatnya pun
tidak ada yang menjualnya. Kuman-kuman penyakit batin tak akan dapat
dilihat dengan mikroskop, yang dapat melihat adalah hanya matahati orang
bersangkutan. Jawaban yang paling tepat dengan penyakit yang satu ini
adalah kita kembali kepada “iman”. Jelasnya bila iman seseorang itu
tebal maka tidak akan kejangkitan penyakit atau perasaan gelisah. Sebab
orang yang beriman kuat selalu ingat kepada Tuhan. Orang yang imannya
kuat yakin benar bahwa apa yang akan terjadi atas dirinya itu sudah ada
dalam suratan Tuhan. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya : “Dan pada
sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib. Tidak ada yang
mengetahuinya selain Dia ; dan Dia mengetahui apa-apa yang ada di lautan
; dan tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan sepengetahuan Dia ;
dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu
yang basah atau kering, melainkan sudah tertulis dalam kitab yang
nyata.” (Q.S. Al-An’am : 59). Disamping itu pula agar seseorang tidak
menjadi gelisah, marilah kita selalu mengingat akan firman Allah yang
tersirat dalam Al-Qur’an, surat Ar-Ra’d, ayat 28 yang artinya :
“ketahuilah bahwa hanya dengan selalu mengingat Allah hati akan menjadi
tenang tentram.”
Kegelisahan berasal dari kata “gelisah”. Gelisah artinya rasa yang tidak
tentram di hati atau merasa selalu khawatir, tidak dapat tenang
(tidurnya), tidak sabar lagi (menanti), cemas dan sebagainya.
Kegelisahan menggambarkan seseorang tidak tentram hati maupun
perbuatannya, artinya merasa gelisah, khawatir, cemas atau takut dan
jijik. Rasa gelisah ini sesuai dengan suatu pendapat yang menyatakan
bahwa manusia yang gelisah itu dihantui rasa khawatir atau takut.
Manusia suatu saat dalam hidupnya akan mengalami kegelisahan.
Kegelisahan ini, apabila cukup lama hinggap pada manusia, akan
menyebabkan suatu gagguan penyakit. Kegelisahan yang cukup lama akan
menghilangkan kemampuan untuk merasa bahagia.
Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkahlaku atau gerak
gerik seseorang dalam situasi tertentu. Gejala gerak gerik atau tingkah
laku itu umumnya lain dari biasanya, misalnya berjalan mondar-mandir
dalam ruang tertentu sambil menundukkan kepala, duduk merenung sambil
memegang kepala, duduk dengan wajah murung,malas bicara, dan
lain-lain.kegelisahan juga merupakan ekspresi dari kecemasan. Masalah
kecemasan atau kagalisahan berkaitan juga dengan masalah frustasi, yang
secara definisi dapat disebutkan, bahwa seseorang mengalami frustasi
karena apa yang diinginkan tidak tercapai.
Tragedi dunia modern tidak sedikit dapat menyebabkan kegelisahan. Hal
ini mungkin akibat kebutuhan hidup yang meningkat, rasa individualistis
dan egoisme, persaingan dalam hidup, keadaan yang tidak stabil, dan
seterusnya. Kegelisahan dalam konteks budaya dapatlah dikatakan sebagai
akibat adanya instink manusia untuk berbudaya, yaitu sebagai upaya untuk
mencari “kesempurnaan”. Atau, dari segi batin manusia, gelisah sebagai
akibat noda dosa pada hati manusia. Dan tidak jarang akibat kegelisahan
seseorang, sekaligus membuat orang lain menjadi korbannya.
Penyebab kegelisahan dapat pula dikatakan akibat mempunyai kemampuan
untuk membaca dunia dan mengetahui misteri hidup. Kehidupan ini yang
menyebabkan mereka menjadi gelisah. Mereka sendiri sering tidak tahu
mengapa mereka gelisah, mereka hidupnya kosong dan tidak mempunyai arti.
Orang yang tidak mempunyai dasar dalam menjalankan tugas (hidup),
sering ditimpa kegelisahan. Kegelisahan yang demikian sifatnya abstrak
sehingga disebut kegelisahan murni, yaitu kegelisahan murni tanpa
mengetahui apa penyebabnya. Bentuk- bentuk kegelisahan manusia berupa
keterasingan, kesepian, ketidakpastian. Perasaan-perasaan semacam ini
silih berganti dengan kebahagiaan, kegembiraan dalam kehidupan manusia.
Tentang perasaan cemas ini, Sigmund Freud membedakannya menjadi tiga
macam, yaitu :
1) Kecemasan
obyektif (kenyataan), kegelisahan ini mirip dengan kegelisahan terapan
dan kegelisahan ini timbul akibat adanya pengaruh dari luar atau
lingkungan sekitar.
Contoh :
Tini seorang ibu muda, mempunyai anak berumur dua tahun, Tina namanya.
Tina tumbuh sehat, montok, lucu, lincah, dan sangat akrab dengan ibunya.
Hampir seluruh waktu Tini tercurahkan untuk Tina. Ia keluar kerja demi
Tina, anak yang baru seorang itu. Sekonyong-konyong Tina sakit ;
muntah-muntah disertai buang air. Tini bingung, anaknya segera dibawa
kerumah sakit. Kata dokter, Tina harus dirawat di rumah sakit dan tidak
boleh ditunggui. Tina menangis terus, tetapi ibunya harus
meninggalkannya. Tini gelisah, cemas, khawatir, memikirkan nasib
anaknya.
Pada contoh tersebut jelas bagi kita, bahwa kecemasan yang diderita oleh
ibu Tini adalah karena adanya bahaya dari luar yang mengancam anaknya.
2) Kecemasan
neurotik (saraf). Kecemasan ini timbul akibat pengamatan tentang bahaya
dari naluriah. Menurut Sigmund freud kecemasan ini dibagi dalam tiga
macam, yakni :
- Kecemasan yang timbul akibat penyesuaian diri dengan lingkungan. Kecemasan ini timbul karena orang itu takut akan bayangannya sendiri, atau takut akan idenya sendiri, sehingga menekan dan menguasai ego.
Contoh :
Ujang anak laki-laki berumur 10 tahun, duduk di kelas 4 SD. Pada suatu
hari ia diberi tahu ayahnya bahwa bulan depan ayahnya pindah ke kota
lain. Mereka sekeluarga harus pindah. Sudah tentu ia harus ikut. Jadi,
ia harus pindah sekolah ke kota tempat ayahnya bertugas. Ibunya tampak
gelisah, karena ia telah merasa betah tinggal di tempat itu berkat
adanya seorang ibu yang aktif mengumpulkan dan memajukan ibu-ibu.
Lebih-lebih Ujang, karena baik di kampung maupun di sekolah ia memiliki
banyak kawan. Ia takut kalau di tempat baru kelak ia tidak merasa betah.
Namun bila tidak ikut pindah, ia akan ikut siapa?. Bila ikut pindah,
bagaimana suasana di tempat baru nanti?. Ia takut pada bayangannya
sendiri.
- Rasa takut irasional atau fobia. Rasa takut ini mudah menular sehingga kadang-kadang tanpa alasan dan hanya karena pandangan saja, yang kemudia dilanjutkan dengan khayalan yang kuat dan dapat menimbulkan rasa takut.
Contoh :
Orang takut ular, binatang berbulu, atau takut lintah. Rasa takut
seperti ini dapat kita tekan, sehingga berkurang, atau hilang sama
sekali. Pengalaman ketika kecil dapat menjadikan anak takut akan
sesuatu, seperti benda tajam, takut darah, dan sebagainya.
- Rasa takut lain seperti rasa gugup, gagap, dan sebagainya.
Contoh :
Seseorang yang tidak bisa menyanyi atau bicara di depan umum,
sekonyong-konyong diminta untuk menyanyi atau berpidato, ia akan
gelisah, gemetar, dan hilang keseimbangan, sehingga sulit berbicara atau
bernyanyi.
3) Kecemasan moral
Tiap pribadi memiliki bermacam-macam emosi, antara lain : iri, benci,
dendam, dengki, marah,takut, gelisah, cinta, rasa kurang (inferiot).
Sifat seperti rasa iri, benci, dengki, dendam dan sebagainya adalah
sifat yang tidak terpuji baik diantara sesama manusia, maupun dihadapan
Tuhan. Dengan adanya sifat itu, seseorang akan merasa khawatir, takut,
cemas, gelisah, dan putus asa.
Setiap orang memiliki emosi, dan emosi penting bagi kemajuan. Namun,
emosi tidak terbendung akan menyebabkan perasaan–perasaan cemas,
gelisah, khawatir, benci dan perasaan negatif lainnya. Perasaan itu
demikian hebatnya, sehingga dapat mendesak dan mengusir pikiran-pikiran
tenang, tentram, segar, dan damai.
Contoh :
Datuk
Maringgih iri melihat kemajuan usaha Bagindo Sulaiman, ayah Siti
Nurbaya. Hatinya selalu gelisah, takut usahanya akan mati, kalah
bersaing. Karena itu, ia menyuruh orang agar membakar toko Bagindo
Sulaiman. (Siti Nurbaya – Marah Rusli).
Sebab gelisah
Bila dikaji, sebab–sebab orang gelisah adalah karena pada hakikatnya
orang takut kehilangan hak–haknya. Hal itu adalah akibat dari suatu
ancaman, baik ancaman dari luar maupun dari dalam.
Contoh: Kegelisahan dapat kita rasakan dimana saja, dalam pekerjaan, persekolahan ataupun perkuliahan, misalkan dalam dunia kerja, jika kinerja kita tidak maksmal ataupun mengecewakan atasan otomatis kita langsung merasakan kegelisahan itu seperti gelisah akan pemecatan dan diigantikan pegawai baru yang lebih menjannjikan. Sama seperti dunia perkuliahan, bagi orang-orang yang melihat blog saya dan masih berstatus mahasiswa kita pasti mempunyai kegelisahan, misalkan, yang pertama kita sebagai mahasiswa pastinya akan lanjut semester, berawal semester 1 sampai semester ke 7, otomatis kita merasakan kegelisahan seperti ''bisa ga ya gua berlanjut ke tahap semester berikutnya tanpa ngulang di tahun berikutnya'' atau ''bisa ga ya gua dapat ipk yang mencukupi untuk menyelesaikan skripsi'' seperti itu, kegelisahan itu akan menghampiri kita perlahan cepat atau lambat seiring kita yang menjalankan, dan pastinya akan bertemu tahap dimana kita kesulitan dalam suatu mata kuliah, oleh karena itu muncullah kegelisahan demi kegelisahan. Ya itu menurut saya pribadi, karena saya juga merasakan kegelisahan tersebut hehe.
Sumber:
http://www.sarjanaku.com/2010/01/makalah-manusia-dan-kegelisahan.html
Sumber:
http://www.sarjanaku.com/2010/01/makalah-manusia-dan-kegelisahan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar