universitas gunadarma

Selasa, 29 Mei 2018

Media Disruption


Media disruption (media bisa mengalami kesalahan).
Sebagai upaya literasi, tulisan sederhana ini utamanya ditujukan kepada mereka yang bukan wartawan. Mengapa demikian? Salah satu alasannya adalah hak publik. Sudah sepatutnya seseorang harus saling memastikan bahwa sesamanya mendapat  informasi yang benar, adil, dan bertanggung jawab ketika “melahap” informasi dari media online atau daring. Namun, tulisan ini juga bukan barang haram bagi wartawan. Paling tidak sebagai sarana untuk saling berbagi cerita. Meminta maaf adalah tradisi panjang di bidang jurnalistik. Sejumlah media cetak pernah melakukan kesalahan dan, dengan sadar dan rendah hati, meminta maaf kepada masyarakat. Sebut saja kisah kontroverisal The New Republic di tahun 1998. Majalah yang berbasis di Washington DC itu tercatat pernah meminta maaf untuk 27 berita palsu yang pernah diterbitkan. Tidak hanya meminta maaf, majalah itu juga harus menghadapi tuntutan dari  banyak pihak serta memecat wartawan andalan mereka, Stephen Glass. Selama proses klarifikasi, tim The New Republic menemukan 27 dari 41 berita yang ditulis oleh Glass adalah cerita fiktif.
Majalah yang terbit sejak 1914 itu merasa tertipu karena dalam serangkaian tahap pengecekan fakta sebelum menerbitkan berita, Glass berhasil menujukkan catatan dan bukti komunikasi dengan narasumber. Patut diduga, Stephen Glass tidak hanya memalsukan berita, namun juga bukti-bukti pendukungnya. The New Republic memang mengalami masalah yang berat. Derajat kesalahan si wartawan, Stephen Glass, juga tidak bisa dibilang ringan. Bagi sebuah media cetak, tidak ada tindakan selain meminta maaf dan meralat untuk sebuah kesalahan. Hal itu sangat masuk akal karena seluruh majalah sudah tercetak dan tersebar ke pembaca. Pertanyaannya, bagaimana dengan media online? Bukankah teknologi memungkinkan setiap orang menyunting berita dengan mudah dan memperbaikinya jika terjadi kesalahan.

Pura-pura benar

Bobot kesalahan memang bervariasi.Ada kesalahan yang bobotnya besar, namun ada juga yang ringan. Konsekuensi hukum untuk jenis-jenis kesalahan juga tidak seragam. Kesalahan berat tentu akan mendapatkan hukuman serius, berbeda dengan kesalahan yang lebih ringan. Namun, konsekuensi etis berlaku untuk semua jenis kesalahan. Konsekuensi etis itu adalah “pernyataan telah melakukan kesalahan dan permintaan maaf”. Oleh karena itu, menutupi sebuah kesalahan adalah kesalahan. Seseorang yang berpura-pura benar, padahal dengan sadar melakukan kesalahan, sedang menabung kesalahan berikutnya. Kecenderungan ini sangat mungkin terjadi di media online. Pengalaman pribadi, cerita kolega, dan pengamatan telah menguatkan pendapat tersebut. Ada media online yang sangat anti meminta maaf karena telah melakukan kesalahan, baik kesalahan ringan maupun fatal. Media tipe ini lebih memilih untuk menyunting ulang berita yang salah, lalu mengunggahnya kembali. Hal ini tentu tidak adil bagi pembaca berita. Mereka yang membaca setelah proses penyuntingan akan menganggap tidak pernah ada kesalahan di berita tersebut. Bukankah ini sebuah pembohongan? Mungkin media semacam itu menganggap meminta maaf adalah pekerjaan yang memalukan dan bisa mengurangi pembaca. Tentu saja berpendapat seperti itu tidak dilarang. Namun, bisa saja logikanya dibalik sehingga orang akan melihat kata “maaf” dengan sudut pandang yang berbeda. Permintaan maaf dapat ditafsirkan sebagai tindakan ksatria dan bertanggung jawab. Mereka yang meminta maaf adalah orang yang tidak menganggap kesalahan. Sebab, di balik kesalahan itu ada hak publik yang dilanggar.

Pedoman

Peraturan Dewan Pers nomor 1 / Peraturan-DP / III / 2012 tentang Pedoman Pelaporan Media Maya sebenarnya telah memberikan dasar untuk kesalahan berita. Butir ke-4 pedoman tersebut menyatakan:     Ralat, koreksi dan atau hak jawab wajib ditautkan pada berita yang diralat, dikoreksi atau yang diberi hak jawab.     Di setiap berita ralat, koreksi, dan hak jawab wajib dicantumkan waktu pemuatan ralat, koreksi, dan atau hak jawab tersebut. Sementara itu, butir ke-5 menegaskan bahwa berita media siber atau online yang sudah bisa diunggah tidak bisa dicabut, kecuali karena alasan SARA, kesusilaan, masa depan anak, pengalaman traumatik korban atau berdasarkan pertimbangan khusus lain yang ditetapkan Dewan Pers. Pancabutan itu juga harus diumumkan kepada publik.

Seperti diuraikan di butir ke-4, Pedoman Pemberitaan Media Siber merujuk kepada Kode Etik Jurnalistik. Di sinilah muncul konsekuensi etis bagi media untuk meminta maaf apabila melakukan kesalahan. Pasal 10 Kode Etik Jurnalistik menyatakan secara tegas bahwa “Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.” Berdasarkan uraian di atas, meminta maaf adalah hal yang lumrah dan wajib dilakukan oleh media online yang melakukan kesalahan. Akses terhadap teknologi informasi dan komunikasi yang dimiliki oleh media online seharusnya bukan digunakan untuk menutupi kesalahan. Seperti diberitakan oleh Tempo.co di awal tahun 2016, Dewan Pers menyatakan ada kurang lebih 2000 media online di Indonesia. Dari jumlah itu, hanya 211 yang telah terverifikasi oleh Dewan Pers sebagai perusahaan media yang layak. Memang, sebagian media online telah taat aturan mengenai ralat dan  permintaan maaf. Namun, siapa yang berani menjamin ratusan atau bahkan ribuan media online yang lain melakukan hal yang sama?

Jaman sekarang ini siapa yang tidak kenal dengan media sosial. Bahkan sekarang ini media sosial menjadi sebuah hal yang sangat amat sangat akrab dibandingkan dengan kawan sendiri. Media sosial diciptakan untuk mempermudah komunikasi dan melakukan pemasaran. Namun dengan banyaknya media sosial yang ada saat ini ternyata juga menimbulkan banyak perbedaan antara nama dan tujuan. Bagi beberapa orang yang tidak terlalu mengetahui hal ini bisa berakibat pada kesalahan proses pemasaran bahkan nantinya bisa mengalami kerugian pada bisnis yang dijalankan.

Lalu apa tanda bahwa kita melakukan kesalahan pada media sosial? Inilah yang akan kita bahas pada postingan kali ini:
  • Jarang update

Kesalahan pertama bagi para pebisnis yaitu jarang update. Seorang pebisnis yang ingin mendekatkan diri dengan pelanggannya haruslah selalu update. Media sosial memiliki kriteria yang sangat cocok dengan pemasaran sehingga kita juga harus memanfaatkannya dengan maksimal.
Sekarang coba anda bayangkan bagaimana bisa para pengguna media sosial mengikuti kita jika mereka jarang menemukan update info terkini dalam akun media sosial kita. Pastinya mereka tidak akan merasa diuntungkan sehingga langsung berlalu begitu saja

  • Berbicara sendiri

Sosial media bukanlah sebuah tempat untuk berbicara sendiri. Di tempat ini kita diminta untuk terus berkomunikasi dengan para pengunjung. Aktiflah dan ikutlah berkomunikasi dengan para followers anda baik melalui komentar ataupun pesan pribadi
  • Menggunakan media sosial hanya sebagai sarana iklan

Tujuan utama dari sosial media adalah pemasaran, namun bukan berarti anda harus selalu mengiklankan bisnis anda. Follower atau pengunjung akan merasa cepat bosan jika isi postingan hanya seputar update promosi diskon serta produk. Jadi, gunakanlah dengan bijak yaitu dengan memasukkan informasi dan berbagai macam hal yang menarik sesuai dengan yang dibutuhkan pembaca
  • Belum menentukan brand anda di media sosial

Brand sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan sebuah usaha. Pastikan anda telah melengkapinya untuk meningkatkan kepercayaan followers terhadap media sosial yang anda miliki
  • Mengabaikan atau menghapus komentar negative

Usahakan jangan pernah menghapus komentar negative yang ada dalam komentar media sosial. Justru tanggapi dengan respon yang positif. Dengan mengabaikan atau menghapusnya menandakan ketidakprofesionalan kita ketika menghadapi sesuatu hal
  • Menanggapi komentar dari followers sangat lama

Apapun komentarnya entah itu positif ataupun negative anda harus dengan bijak membalas setiap postingannya. Lakukan ini dengan cepat karena ini akan mencerminkan kualitas dari pelayanan anda.
  • Mengabaikan proses pemasaran

Jika tujuan utama anda menggunakan media sosial adalah bisnis, maka lakukanlah. Catat semua pergerakan mulai dari followers hingga konten yang banyak disukai. Jangan lupa melakukan evaluasi agar promosi anda di media sosial juga semakin terarah

Ada pula 8 kesalahan sosial media marketing yang sering dilakukan, yaitu :
  • Tidak memiliki strategi sosial media apapun


Tanpa strategi sosial media maka sebuah perusahaan sekalipun tidak akan pernah bisa menyampaikan suatu pesan secara efektif pada audience mereka. Selain strategi, yang perlu persiapkan adalah bagaimana mengukur goals, membuat peraturan sosial media dan membuat perencanaan kalender sosial media
  • Membuat akun hampir semua sosial media yang ada

Banyak dari pebisnis yang membuat akun langsung di semua sosial media, akan tetapi belum memberikan postingan dengan konten yang berkualitas sehingga belum mampu menarik engage followernya. Temukan dimana market Anda berkumpul dan Fokus pada strategi sosial media membantu menentukan fokus pada konten dan sosial media tertentu secara efektif, berkualitas dan relevan
  • Membayar follower palsu

Ketika follower, likes dan fans yang banyak memberikan pengaruh pada bisnis, tetapi nyatanya tidak dapat membantu menaikkan ROI atau menambah engagement. Tahukah Anda belakangan ini instagram telah menghapus jutaan akun karena menggunakan follower bayaran? Kuncinya disini adalah dengan membangun hubungan asli dengan customer daripada fokus di jumlah follower
  • Berbicara terlalu banyak tentang brand dan brand

Daripada hanya memposting tentang brand melulu yang akan membuat follower bosan, maka bisa diantisipasi dengan reshare atau re-tweet salah satu follower kita yang tentunya berguna bagi follower lain. Dan biarkan audience mengetahui bahwa Anda ingin berkomunikasi dan lebih dekat dengan mereka. Aktivitas ini akan membuat audience lebih aktif memberikan ide-ide mereka tentang bisnis Anda
  • Menggunakan hashtag yang tidak relevan

Semakin aneh dan tidak relevan hastag yang digunakan maka akan semalin membuat bisnis Anda terlihat mengganggu. Penggunaan hashtag yang dibatasi serta relevan maka akan membantu meningkatkan konversi dalam postingan
  • Sharing terlalu banyak dalam satu waktu yang berdekatan

Untuk menarik perhatian audience, membuat postingan secara konsisten  dan secara terjadwal adalah hal yang tepat. Strategi yang bisa di contoh adalah membuat postingan setelah 1 atau beberapa jam dari postingan sebelumnya
  • Lupa mengkoreksi hasil tulisan

Typo, ini adalah satu hal yang membuat sosial media kita terkesan jelek. Walau hanya bentuk !?;()~:\ yang hilang maka membuat audience menjadi tidak nyaman membaca postingan Anda. Membaca lagi postingan sebelum mempublish akan mampu meminimalisir kesalahan typo yang terjadi
  • Mengabaikan aspek “sosial” pada media social

Pengguna media sosial tentunya ingin merasa mendapatkan kesepakatan yang nyata dengan orang dan bukan robot. Sehingga aspek “sosial” sebaiknya jangan sampai terlupakan. Membalas beberapa komentar dalam sosial media dapat membantu membangun kepercayaan antara Anda dan customer





Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perlukah Media "Online" Meminta Maaf Jika Terjadi Kesalahan?", https://nasional.kompas.com/read/2016/05/30/20213931/perlukah.media.online.meminta.maaf.jika.terjadi.kesalahan..
http://blog.pekku.com/7-kesalahan-penggunaan-media-sosial-dan-solusinya/
http://mebiso.com/8-kesalahan-sosial-media-marketing-yang-sering-dilakukan/


Kamis, 17 Mei 2018

Online Personality

Istilah personality berasal dari kata latin “persona” yang berarti topeng atau kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. Bagi bangsa Roma, “persona” berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain.

Menurut Agus Sujanto dkk (2004), menyatakan bahwa kepribadian adalah suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik.

Pengertian Kepribadian (Personality)

Sedangkan personality menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendiriran, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain.

Cara identifikasi kepribadian 
Terdapat sejumlah upaya awal untuk mengidentifikasi sifat-sifat utama yang mengatur perilaku. Seringnya, upaya ini sekadar menghasilkan daftar panjang sifat yang sulit untuk digeneralisasikan dan hanya memberikan sedikit bimbingan praktis bagi para pembuat keputusan organisasional. Dua pengecualian adalah Myers-Briggs Type Indicator dan Model Lima Besar. Selama 20 tahun hingga saat ini, dua pendekatan ini telah menjadi kerangka kerja yang dominan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan sifat-sifat seseorang.
Myers-Briggs Type Indicator
Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) adalah tes kepribadian menggunakan empat karakteristik dan mengklasifikasikan individu ke dalam salah satu dari 16 tipe kepribadian. Berdasarkan jawaban yang diberikan dalam tes tersebut, individu diklasifikasikan ke dalam karakteristik ekstraver atau introver, [sensitif]] atau intuitif, pemikir atau perasa, dan memahami atau menilai.  Instrumen ini adalah instrumen penilai kepribadian yang paling sering digunakan.  MBTI telah dipraktikkan secara luas di perusahaan-perusahaan global seperti Apple Computers, AT&T, Citgroup, GE, 3M Co., dan berbagai rumah sakit, institusi pendidikan, dan angkatan bersenjata AS.
Model Lima Besar
Myers-Briggs Type Indicator kurang memiliki bukti pendukung yang valid, tetapi hal tersebut tidak berlaku pada model lima faktor kepribadian -yang biasanya disebut Model Lima Besar. Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah besar penelitian mendukung bahwa lima dimensi dasar saling mendasari dan mencakup sebagian besar variasi yang signifikan dalam kepribadian manusia. Faktor-faktor lima besar mencakup ekstraversi, mudah akur dan bersepakat, sifat berhati-hati, stabilitas emosi, dan terbuka terhadap hal-hal baru.
Online
Online adalah istilah saat kita sedang terhubung dengan internet atau dunia maya, baik itu terhubung dengan akun media sosial kita, email dan berbagai jenis akun lainnya yang kita pakai atau gunakan lewat internet.
Dengan begitu saya menyimpulkan Online Personality adalah kepribadian seseorang yang hanya terungkap di dunia maya saja, kepribadian yang tidak muncul di dunia nyata seperti Humoris, mungkin ada beberapa orang yang sangat humoris di dunia maya, akan tetapi apakah di dunia nyata nya mereka itu humoris? bahkan ada beberapa yang malah pendiam di dunia nyata nya dibandingkan sifat humorisnya di dunia maya

Sumber : 
http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepribadian/
http://www.pengertianku.net/2015/01/pengertian-online-dan-offline-secara-lebih-jelas.html
https://maureenjeanetteelyzabethkohlein.wordpress.com/2014/03/17/personality-kepribadian-2/