Media
disruption (media bisa mengalami kesalahan).
Sebagai
upaya literasi, tulisan sederhana ini utamanya ditujukan kepada mereka yang
bukan wartawan. Mengapa demikian? Salah satu alasannya adalah hak publik. Sudah
sepatutnya seseorang harus saling memastikan bahwa sesamanya mendapat informasi yang benar, adil, dan bertanggung
jawab ketika “melahap” informasi dari media online atau daring. Namun, tulisan
ini juga bukan barang haram bagi wartawan. Paling tidak sebagai sarana untuk
saling berbagi cerita. Meminta maaf adalah tradisi panjang di bidang
jurnalistik. Sejumlah media cetak pernah melakukan kesalahan dan, dengan sadar
dan rendah hati, meminta maaf kepada masyarakat. Sebut saja kisah kontroverisal
The New Republic di tahun 1998. Majalah yang berbasis di Washington DC itu
tercatat pernah meminta maaf untuk 27 berita palsu yang pernah diterbitkan.
Tidak hanya meminta maaf, majalah itu juga harus menghadapi tuntutan dari banyak pihak serta memecat wartawan andalan
mereka, Stephen Glass. Selama proses klarifikasi, tim The New Republic
menemukan 27 dari 41 berita yang ditulis oleh Glass adalah cerita fiktif.
Majalah
yang terbit sejak 1914 itu merasa tertipu karena dalam serangkaian tahap
pengecekan fakta sebelum menerbitkan berita, Glass berhasil menujukkan catatan
dan bukti komunikasi dengan narasumber. Patut diduga, Stephen Glass tidak hanya
memalsukan berita, namun juga bukti-bukti pendukungnya. The New Republic memang
mengalami masalah yang berat. Derajat kesalahan si wartawan, Stephen Glass,
juga tidak bisa dibilang ringan. Bagi sebuah media cetak, tidak ada tindakan
selain meminta maaf dan meralat untuk sebuah kesalahan. Hal itu sangat masuk
akal karena seluruh majalah sudah tercetak dan tersebar ke pembaca.
Pertanyaannya, bagaimana dengan media online? Bukankah teknologi memungkinkan
setiap orang menyunting berita dengan mudah dan memperbaikinya jika terjadi
kesalahan.
Pura-pura benar
Bobot
kesalahan memang bervariasi.Ada kesalahan yang bobotnya besar, namun ada juga
yang ringan. Konsekuensi hukum untuk jenis-jenis kesalahan juga tidak seragam.
Kesalahan berat tentu akan mendapatkan hukuman serius, berbeda dengan kesalahan
yang lebih ringan. Namun, konsekuensi etis berlaku untuk semua jenis kesalahan.
Konsekuensi etis itu adalah “pernyataan telah melakukan kesalahan dan
permintaan maaf”. Oleh karena itu, menutupi sebuah kesalahan adalah kesalahan.
Seseorang yang berpura-pura benar, padahal dengan sadar melakukan kesalahan,
sedang menabung kesalahan berikutnya. Kecenderungan ini sangat mungkin terjadi
di media online. Pengalaman pribadi, cerita kolega, dan pengamatan telah
menguatkan pendapat tersebut. Ada
media online yang sangat anti meminta maaf karena telah melakukan kesalahan,
baik kesalahan ringan maupun fatal. Media tipe ini lebih memilih untuk
menyunting ulang berita yang salah, lalu mengunggahnya kembali. Hal ini tentu
tidak adil bagi pembaca berita. Mereka yang membaca setelah proses penyuntingan
akan menganggap tidak pernah ada kesalahan di berita tersebut. Bukankah ini
sebuah pembohongan? Mungkin media semacam itu menganggap meminta maaf adalah
pekerjaan yang memalukan dan bisa mengurangi pembaca. Tentu saja berpendapat seperti
itu tidak dilarang. Namun, bisa saja logikanya dibalik sehingga orang akan
melihat kata “maaf” dengan sudut pandang yang berbeda. Permintaan maaf dapat
ditafsirkan sebagai tindakan ksatria dan bertanggung jawab. Mereka yang meminta
maaf adalah orang yang tidak menganggap kesalahan. Sebab, di balik kesalahan
itu ada hak publik yang dilanggar.
Pedoman
Peraturan
Dewan Pers nomor 1 / Peraturan-DP / III / 2012 tentang Pedoman Pelaporan Media
Maya sebenarnya telah memberikan dasar untuk kesalahan berita. Butir ke-4
pedoman tersebut menyatakan: Ralat,
koreksi dan atau hak jawab wajib ditautkan pada berita yang diralat, dikoreksi
atau yang diberi hak jawab. Di setiap
berita ralat, koreksi, dan hak jawab wajib dicantumkan waktu pemuatan ralat,
koreksi, dan atau hak jawab tersebut. Sementara itu, butir ke-5 menegaskan
bahwa berita media siber atau online yang sudah bisa diunggah tidak bisa
dicabut, kecuali karena alasan SARA, kesusilaan, masa depan anak, pengalaman
traumatik korban atau berdasarkan pertimbangan khusus lain yang ditetapkan
Dewan Pers. Pancabutan itu juga harus diumumkan kepada publik.
Seperti
diuraikan di butir ke-4, Pedoman Pemberitaan Media Siber merujuk kepada Kode
Etik Jurnalistik. Di sinilah muncul konsekuensi etis bagi media untuk meminta
maaf apabila melakukan kesalahan. Pasal 10 Kode Etik Jurnalistik menyatakan
secara tegas bahwa “Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan
memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf
kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.” Berdasarkan uraian di atas,
meminta maaf adalah hal yang lumrah dan wajib dilakukan oleh media online yang
melakukan kesalahan. Akses terhadap teknologi informasi dan komunikasi yang
dimiliki oleh media online seharusnya bukan digunakan untuk menutupi kesalahan.
Seperti diberitakan oleh Tempo.co di awal tahun 2016, Dewan Pers menyatakan ada
kurang lebih 2000 media online di Indonesia. Dari jumlah itu, hanya 211 yang
telah terverifikasi oleh Dewan Pers sebagai perusahaan media yang layak.
Memang, sebagian media online telah taat aturan mengenai ralat dan permintaan maaf. Namun, siapa yang berani
menjamin ratusan atau bahkan ribuan media online yang lain melakukan hal yang
sama?
Jaman
sekarang ini siapa yang tidak kenal dengan media sosial. Bahkan sekarang ini
media sosial menjadi sebuah hal yang sangat amat sangat akrab dibandingkan
dengan kawan sendiri. Media sosial diciptakan untuk mempermudah komunikasi dan
melakukan pemasaran. Namun dengan banyaknya media sosial yang ada saat ini ternyata
juga menimbulkan banyak perbedaan antara nama dan tujuan. Bagi beberapa orang
yang tidak terlalu mengetahui hal ini bisa berakibat pada kesalahan proses
pemasaran bahkan nantinya bisa mengalami kerugian pada bisnis yang dijalankan.
Lalu
apa tanda bahwa kita melakukan kesalahan pada media sosial? Inilah yang akan
kita bahas pada postingan kali ini:
- Jarang update
Kesalahan
pertama bagi para pebisnis yaitu jarang update. Seorang pebisnis yang ingin
mendekatkan diri dengan pelanggannya haruslah selalu update. Media sosial
memiliki kriteria yang sangat cocok dengan pemasaran sehingga kita juga harus
memanfaatkannya dengan maksimal.
Sekarang
coba anda bayangkan bagaimana bisa para pengguna media sosial mengikuti kita
jika mereka jarang menemukan update info terkini dalam akun media sosial kita.
Pastinya mereka tidak akan merasa diuntungkan sehingga langsung berlalu begitu
saja
- Berbicara sendiri
Sosial
media bukanlah sebuah tempat untuk berbicara sendiri. Di tempat ini kita
diminta untuk terus berkomunikasi dengan para pengunjung. Aktiflah dan ikutlah
berkomunikasi dengan para followers anda baik melalui komentar ataupun pesan
pribadi
- Menggunakan media sosial hanya sebagai sarana iklan
Tujuan
utama dari sosial media adalah pemasaran, namun bukan berarti anda harus selalu
mengiklankan bisnis anda. Follower atau pengunjung akan merasa cepat bosan jika
isi postingan hanya seputar update promosi diskon serta produk. Jadi,
gunakanlah dengan bijak yaitu dengan memasukkan informasi dan berbagai macam
hal yang menarik sesuai dengan yang dibutuhkan pembaca
- Belum menentukan brand anda di media sosial
Brand
sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan sebuah usaha. Pastikan anda telah
melengkapinya untuk meningkatkan kepercayaan followers terhadap media sosial
yang anda miliki
- Mengabaikan atau menghapus komentar negative
Usahakan
jangan pernah menghapus komentar negative yang ada dalam komentar media sosial.
Justru tanggapi dengan respon yang positif. Dengan mengabaikan atau
menghapusnya menandakan ketidakprofesionalan kita ketika menghadapi sesuatu
hal
- Menanggapi komentar dari followers sangat lama
Apapun
komentarnya entah itu positif ataupun negative anda harus dengan bijak membalas
setiap postingannya. Lakukan ini dengan cepat karena ini akan mencerminkan
kualitas dari pelayanan anda.
- Mengabaikan proses pemasaran
Jika
tujuan utama anda menggunakan media sosial adalah bisnis, maka lakukanlah.
Catat semua pergerakan mulai dari followers hingga konten yang banyak disukai.
Jangan lupa melakukan evaluasi agar promosi anda di media sosial juga semakin
terarah
Ada
pula 8 kesalahan sosial media marketing yang sering dilakukan, yaitu :
- Tidak memiliki strategi sosial media apapun
Tanpa
strategi sosial media maka sebuah perusahaan sekalipun tidak akan pernah bisa
menyampaikan suatu pesan secara efektif pada audience mereka. Selain strategi,
yang perlu persiapkan adalah bagaimana mengukur goals, membuat peraturan sosial
media dan membuat perencanaan kalender sosial media
- Membuat akun hampir semua sosial media yang ada
Banyak
dari pebisnis yang membuat akun langsung di semua sosial media, akan tetapi
belum memberikan postingan dengan konten yang berkualitas sehingga belum mampu
menarik engage followernya. Temukan dimana market Anda berkumpul dan Fokus pada
strategi sosial media membantu menentukan fokus pada konten dan sosial media
tertentu secara efektif, berkualitas dan relevan
- Membayar follower palsu
Ketika
follower, likes dan fans yang banyak memberikan pengaruh pada bisnis, tetapi
nyatanya tidak dapat membantu menaikkan ROI atau menambah engagement. Tahukah
Anda belakangan ini instagram telah menghapus jutaan akun karena menggunakan
follower bayaran? Kuncinya disini adalah dengan membangun hubungan asli dengan
customer daripada fokus di jumlah follower
- Berbicara terlalu banyak tentang brand dan brand
Daripada
hanya memposting tentang brand melulu yang akan membuat follower bosan, maka
bisa diantisipasi dengan reshare atau re-tweet salah satu follower kita yang
tentunya berguna bagi follower lain. Dan biarkan audience mengetahui bahwa Anda
ingin berkomunikasi dan lebih dekat dengan mereka. Aktivitas ini akan membuat
audience lebih aktif memberikan ide-ide mereka tentang bisnis Anda
- Menggunakan hashtag yang tidak relevan
Semakin
aneh dan tidak relevan hastag yang digunakan maka akan semalin membuat bisnis
Anda terlihat mengganggu. Penggunaan hashtag yang dibatasi serta relevan maka
akan membantu meningkatkan konversi dalam postingan
- Sharing terlalu banyak dalam satu waktu yang berdekatan
Untuk
menarik perhatian audience, membuat postingan secara konsisten dan secara terjadwal adalah hal yang tepat.
Strategi yang bisa di contoh adalah membuat postingan setelah 1 atau beberapa
jam dari postingan sebelumnya
- Lupa mengkoreksi hasil tulisan
Typo,
ini adalah satu hal yang membuat sosial media kita terkesan jelek. Walau hanya
bentuk !?;()~:\ yang hilang maka membuat audience menjadi tidak nyaman membaca
postingan Anda. Membaca lagi postingan sebelum mempublish akan mampu meminimalisir
kesalahan typo yang terjadi
- Mengabaikan aspek “sosial” pada media social
Pengguna
media sosial tentunya ingin merasa mendapatkan kesepakatan yang nyata dengan
orang dan bukan robot. Sehingga aspek “sosial” sebaiknya jangan sampai
terlupakan. Membalas beberapa komentar dalam sosial media dapat membantu
membangun kepercayaan antara Anda dan customer
Artikel ini
telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perlukah Media "Online"
Meminta Maaf Jika Terjadi Kesalahan?", https://nasional.kompas.com/read/2016/05/30/20213931/perlukah.media.online.meminta.maaf.jika.terjadi.kesalahan..
http://blog.pekku.com/7-kesalahan-penggunaan-media-sosial-dan-solusinya/
http://mebiso.com/8-kesalahan-sosial-media-marketing-yang-sering-dilakukan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar