universitas gunadarma

Jumat, 14 April 2017

Asal Mula Kehidupan Di Bumi

Teori Proses Terbentuknya Planet Bumi

1. Teori Nebula (Kabut)

Teori Kabut (Nebula) dikemukakan oleh Immanuel Kant (17550 dan Piere De Laplace (1796), karena itulah teori ini sering disebut dengan teori kabut Kant-Laplace. Dalam teori tersebut dikatakan bahwa dalam jagat raya terdapat gas yang kemudian berkumpul menjadi kabut (nebula) dan dalam gas tersebut terdapat gas yang memiliki gaya tarik menarik membentuk kumpulan kabut yang sangat tebal dan berputar semakin cepat. Perputaran yang sangat cepat itulah yang akhirnya membawa materi kabut bagian khatulistiwa terlempar memisah dan memadat. Dan bagian yang terlempar inilah yang kemudian menjadi planet-planet dalam tatasurya.
Dalam teori nebula terdiri atas beberapa tahap, yaitu :
  1. Matahari dan planet lain masih berbentuk gas, serta kabut yang sangat pekat dan besar.
  2. Kabut berputar dan berpilin dengat sangat kuat, sehingga terjadi pemadatan dipusat lingkaran yang kemudian membentuk matahari. Pada saat yang bersamaan materi lainpun terbentuk menjadi massa yang lebih kecil dari matahari yang disebut sebagai planet, bergerak mengelilingi matahari.
  3.  Materi-materi tersebut tumbuh makin besar dan terus melakukan gerakan secara teratur mengelilingi matahari dalam satu orbit yang tetap dan membentuk Susunan Keluarga Matahari.

2. Teori Planetisimal

Teori Planetisimal dikemukakan oleh Forest Ray Moulton, seorang ahli astronomi Amerika bersama rekannya Thomas C.Chamberlain, seorang ahli geologi, sekitar pada abad ke-20. Mereka berpendapat bahwa matahari terdiri dari massa gas bermassa sangat besar. Suatu ketika bintang melintas dengan jarak yang sangat dengan dengan matahari hingga hampir terjadi tabrakan.
Jarak dekat bintang dan matahari dapat mempengaruhi gaya gravitasi yang mengakibatkan sebagian materi terlempar dan meninggalkan permukaan matahari dan permukaan bintang, hingga akhirnya membentuk gumpalan-gumpalan akibar dari penyusupan, lalu terjadi pendinginan dan padar, hingga terbentuklah planet-planet yang mengelilingi matahari.

3. Teori pasang surut gas (Tidal)

Teori ini dikemukaan oleh James Jeans dan Harold Jeffereys pada tahun 1918. Dalam teori ini mereka menjelaskan terbentuknya matahari karena terdapat suatu bintang besar yang mendekati matahari yang masih berbentuk gas, dari besarnya massa matahari dan besarnya massa bintang yang melaju membentuk sebuah tonjolan-tonjolan pada matahari yang disebabkan gaya tarik bintang yang melaju. Semakin menjauhnya bintang melaju dengan matahari maka tonjolan-tonjolan tersebut berpisah dan membentuk sebuah gumpalan-gumpalan gas yang membeku dan terbentuklah plant-planet baru termasuk diantaranya bumi.

4. Teori Bintang Kembar

Teori ini dikemukakan oleh R.A.Lytteton seorang ahli astronomi. Menurut pendapatnya, teori ini berasal dari bintang kembar, dimana salah satu bintang meledak sehingga bahan materialnya terlempar, dari besarnya gaya gravitas bintang yang tidak meledak membuat material yang terlempar kemudian akan tertarik dan mengelilingi matahari. Bintang yang tidak meledak disebut dengan matahari. Sedangkan pecahan bintang yang lain adalah planet-planet yang mengelilinya.

5. Teori Big Bang

Teori BIng Bang berawal sejak puluhan milyar tahun yang lalu, ketika pada awalnya terdapat gumpalan kabut raksasa yang berputar pada prosesnya lalu. Putaran tersebut memungkinkan bagian-bagian kecil dan ringan terlempar ke luar serta bagian besarnya berkumpul di pusat dengan membentuk cakram raksasa dimana suatu saat terjadi ledakan dasyat dari gumpalan besar tersebut membentuk galaksi dan nebula-nebula, selama kurang lebih 4,6 milyar tahun, nebula-nebula tersebut membuka dan membentuk galaksi bimasakti, selanjutnya membentuk sistam tata surya, Gumpalan yang terlempar keluar mengalami kondensasi sehingga membentuk gumpalan-gumpalan yang dingin dan memadat. Kemudian gumpalan tersebut membentuk planet-planet, termasuk bumi.
Teori Big Bang banyak dipercaya oleh para ahli dan merupakan titik terakhir dari pencapaian titi terakhir ilmu pengetahuan tentang asal mausal alam semesta. Di dibuktikan bahwa Big Bang adalah jumlah heterogen dan helium sesuai dengan sisa peninggalan peristiwa big bang. Dimana jika alam semesta tidak memiliki permulaan maka unsur hidrogen telah habis sama sekali dan berupa menjadi helium.

Sumber : http://www.pelajaransekolahonline.com/2016/19/teori-terbentuknya-bumi-menurut-pendapat-para-ahli.html 

Perbedaan Teori Abiogenesis dan Biogenesis

Abiogenesis

Abiogenesis adalah kepercayaan kuno tentang asal usul kehidupan. Hal ini juga dikenal sebagai teori generasi spontan kehidupan. Teori abiogenesis menyatakan bahwa asal-usul makhluk hidup adalah karena zat tak hidup, atau itu adalah insiden spontan. Namun, sampai sekarang para ilmuwan telah mampu mencapai teori ini dengan eksperimen.

Biogenesis

Biogenesis adalah teori yang diterima saat ini mengenai asal usul kehidupan baru. Teori biogenesis menyatakan bahwa asal usul kehidupan adalah karena sel-sel hidup yang sudah ada sebelumnya atau organisme. Louis Pasteur, Francesco Reddy, dan Lazzaro Spallanzani eksperimen yang membuktikan teori ini.

Sumber :  http://www.sridianti.com/perbedaan-antara-abiogenesis-dan-biogenesis.html


Percobaan Yang Dilakukan Ilmuan Pencetus Teori Asal Mula Kehidupan Di Bumi

Percobaan Francesco Redi
   
Francesco Redi melakukan penelitian menggunakan 8 tabung yang dibagi menjadi 2 bagian. Empat tabung masing-masing diisi dengan daging ular, ikan, roti dicampur susu, dan daging. Keempat tabung dibiarkan terbuka. Empat tabung yang lain diperlakukan sama dengan 4 tabung pertama, tetapi tabung ditutup rapat. Setelah beberapa hari pada tabung yang terbuka terdapat larva yang akan menjadi lalat. Berdasarkan hasil percobaannya, Redi menyimpulkan bahwa ulat bukan berasal dari daging, tetapi berasal dari telur lalat yang terdapat dalam daging dan menetas menjadi larva. Penelitian ini ditentang oleh penganut teori Abiogenesis karena pada tabung yang tertutup rapat, udara dan zat hidup tidak dapat masuk sehingga tidak memungkinkan untuk adanya suatu kehidupan. Bantahan itu mendapat tanggapan dari Redi. Redi melakukan percobaan yang sama, namun tutup diganti dengan kain kasa sehingga udara dapat masuk dan ternyata dalam daging tidak terdapat larva.
Percobaan Francesco Redi

Percobaan Lazzaro Spallanzani
    Lazzaro Spallanzani pada tahun 1765 melakukan percobaan untuk menyanggah kesimpulan yang
dikemukakan oleh Nedham. Lazzaro Spallanzani melakukan percobaan dengan memanaskan 2 tabung kaldu sehingga semua organisme yang ada di dalam kaldu terbunuh. Setelah didinginkan kaldu tersebut dibagi menjadi 2, satu tabung dibiarkan terbuka dan satu tabung yang lain ditutup. Ternyata pada tabung yang terbuka terdapat organisme, sedangkan pada tabung yang tertutup tidak terdapat organisme.
    Percobaan Spallanzani ini pada prinsipnya sama dengan percobaan Redi, tetapi bahan yang digunakan adalah air kaldu.
Labu 1 : diisi 70 cc air kaldu, kemudian dipanaskan 15ยบ C dan dibiarkan terbuka.
Labu 2 : diisi 70 cc air kaldu, kemudian ditutup rapat dengan sumbat gabus, lalu dipanaskan dan pada daerah pertemuan gabus dengan mulut labu dapat diolesi lilin agar lebih rapat.
Kedua labu itu ditempatkan di tempat terbuka dan didinginkan. Setelah beberapa hari kemudian, hasil percobaan menunjukkan bahwa:
Labu 1 : terjadi perubahan, air kaldu menjadi keruh dan berbau tidak enak, serta banyak mengandung mikroba.
Labu 2 : tidak ada perubahan sama sekali, air tetap jernih dan tanpa mikroba. Tetapi, bila dibiarkan terbuka lebih lama terdapat banyak mikroba.
    Dengan mikroskop tampak bahwa pada kaldu yang berasal dari labu 1 dan labu 2 terdapat mikroorganisme. Spallanzani menyimpulkan bahwa timbulnya kehidupan hanya mungkin jika telah ada kehidupan sebelumnya. Jadi, mikroorganisme tersebut telah ada dan tersebar di udara. Pendukung abiogenesis menyatakan keberatan terhadap hasil eksperimen Spallanzani, sebab udara diperlukan untuk berlakunya generation spontanea. Sedangkan, paham biogenesis beranggapan bahwa udara itu merupakan sumber kontaminasi.

  
Percobaan Louis Pasteur
    Orang yang memperkuat teori Biogenesis dan menumbangkan teori Abiogenesis hingga tak tersanggahkan lagi  adalah Louis Pasteur (1822 - 1895) seorang ahli biokimia berkebangsaan Perancis. Pasteur melakukan percobaan penyempurnaan dari percobaan yang dilakukan Spallanzani. Louis Pasteur melakukan percobaan menggunakan labu leher angsa. Pertama-tama kaldu direbus hingga mendidih, kemudian didiamkan. Setelah beberapa hari, air kaldu tetap jernih dan tidak mengandung mikroorganisme. Adanya leher angsa memungkinkan udara dapat masuk ke dalam tabung, tetapi mikroorganisme udara akan terhambat masuk karena adanya uap air pada pipa leher. Namun, apabila tabung dimiringkan hingga air kaldu sampai ke permukaan pipa, air kaldu tersebut akan terkontaminasi oleh mikroorganisme udara. Akibatnya setelah beberapa waktu, air kaldu akan keruh karena terdapat mikroorganisme. Kesimpulan percobaan Pasteur adalah mikroorganisme
yang ada pada air kaldu bukan berasal dari cairan (benda tak hidup), melainkan dari mikroorganisme yang terdapat di udara. Mikroorganisme yang ada di udara masuk ke dalam labu bersama-sama dengan debu.

Percobaan Louis Pasteur - Labu leher angsa
Dalam buku versi lain percobaan Louis Pasteur adalah sebagai berikut:
Percobaan Louis Pasteur versi 2
Percobaan Louis Pasteur hasilnya,
a. air kaldu yang terdapat di dalam labu yang tidak berbentuk leher angsa, mengandung mikroorganisme.
b. Adapun labu yang berbentuk leher angsa dan berhubungan dengan udara luar, tidak terdapat mikroorganisme.
    Berdasarkan hasil percobaan para ilmuwan tersebut maka muncullah teori baru yaitu teori Biogenesis yang menyatakan bahwa:
a. setiap makhluk hidup berasal dari telur = omne vivum ex ovo
b. setiap telur berasal dari makhluk hidup = omne ovum ex vivo
c. setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya = omne vivum ex vivo

Sumber :  http://www.biomagz.com/2016/09/teori-asal-usul-kehidupan-teori.html

Apa Itu Efek Rumah Kaca


Bumi mendapatkan energi panas dari sinar matahari. Sinar matahari ini disaring oleh atmosfer bumi sebelum sampai ke permukaan bumi. Atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi bumi. Sebagian besar dari sinar matahari sampai ke permukaan bumi, tapi sebagian dipantulkan kembali oleh atmosfer bumi.

Panas dari sinar matahari kemudian diserap oleh permukaan bumi, panas yang terserap ini kemudian diradiasikan kembali ke lapisan atmosfer. Ketika ini terjadi, sebagian dari panas diserap oleh atmosfer dan tidak dapat keluar kembali ke angkasa. Proses ini disebut sebagai "efek rumah kaca" atau "greenhouse effect".

Terdapat beberapa gas khusus pada lapisan atmosfer yang dapat menangkap panas yang diradiasikan kembali dari permukaan bumi. Gas-gas ini dikenal sebagai "gas rumah kaca" atau "greenhouse gases". Gas-gas yang termasuk sebagai gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, ozon, metana, dinitrogen oksida, dan klorofluorokarbon. Semakin bertambahnya jumlah gas-gas ini dalam lapisan atmosfer, maka semakin banyak pula jumlah panas yang diradiasikan permukaan bumi akan terperangkap dalam lapisan atmosfer dan tidak dapat keluar kembali ke angkasa.

Terus terjadinya efek rumah kaca ini menyebabkan bumi semakin lama semakin panas. Proses inilah yang kita kenal sebagai "pemanasan global" atau "global warming".

Proses ini sangat mirip dengan proses yang terjadi pada rumah kaca atau greenhouse, yakni rumah yang terbuat dari kaca dan digunakan untuk menumbuhkan tanaman di saat musim dingin. Setelah panas yang dibawa sinar matahari masuk ke dalam rumah melalui kaca, panas terperangkap di dalam rumah oleh karena adanya tembok-tembok kaca. Sehingga bagian dalam rumah dapat tetap hangat dan tanaman dapat tumbuh selama musim dingin. Karena itulah proses ini dinamakan efek rumah kaca.

Efek rumah kaca menyebabkan pemanasan global yang kemudian menyebabkan perubahan iklim yang signifikan di seluruh bumi. Hal ini dapat mengakibatkan banyak masalah dalam jangka panjang. Untuk melawan ancaman pemanasan global, negara-negara di seluruh dunia mencoba membuat lingkungan yang bebas polusi dan menanam pohon-pohon. Reboisasi adalah cara paling alami untuk membuat lingkungan dimana pemanasan global dapat dikendalikan, karena tumbuhan-tumbuhan dan pohon-pohon dapat menyerap karbon dioksida dan melepas oksigen ke atmosfer. Perusahaan-perusahaan mobil juga sedang fokus dalam pembuatan "mobil hijau" atau "Green cars", yakni mobil yang melepas lebih sedikit polutan ke atmosfer. 


Sumber : http://www.jendelasarjana.com/2014/02/pengertian-efek-rumah-kaca.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar