Teori Terbentuknya Alam Semesta
Teori terbentuknya alam semesta telah di kaji dan di pelajari oleh para ilmuan ahli astronomi semenjak dahulu, Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang berlakal, mempunyai nafsu dan sebagai penghuni alam semesta selalu ingin tahu untuk mencari penjelasan tentang makna dari hal-hal yang terjadi, termasuk dalam hal astronomi.
Teori terbentuknya alam semesta telah di kaji dan di pelajari oleh para ilmuan ahli astronomi semenjak dahulu, Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang berlakal, mempunyai nafsu dan sebagai penghuni alam semesta selalu ingin tahu untuk mencari penjelasan tentang makna dari hal-hal yang terjadi, termasuk dalam hal astronomi.
Pengertian alam semesta mencakup tentang Mikrokosmos dan Makrokosmos seperti berikut :
- Mikrokosmos : benda-benda alam yang mempunyai ukuran yang sangat kecil. misal ; electron, atom, amuba, dll
- Makrokosmos : benda-benda alam yang mempunyai ukuran yang sangat besar. misal ; planet, bintang, galaksi, dll
Adapun beberapa teori terbentuknya alam semesta munurut para pakar astronomi adalah sebagai berikut :
- Teori Keadaan Tetap (Steady State Theory)
Teori ini berdasarkan prinsip kosmologi
sempurna yang menyatakan bahwa alam semesta dimanapun dan kapanpun
selalu sama. Berdasarkan prinsip tersebut alam semesta terjadi pada saat
terntentu yang telah lalu dan segala sesuatu di alam semesta selalu
tetap sama walaupun galaksi-galaksi saling bergerak menjauhi satu sama
lainnya.
Jadi teori ini beranggapan bahwa alam semesta itu tak terhingga besarnya dan tak terhingga tuanya (tanpa awal dan akhir)
2. Teori Dentuman Besar (Big Bang Theory)
Teori ini di kembangkan oleh George
Lemaitre, dimana teori ini mengemukakan bahwa pada mulanya alam semesta
berupa sebuah primeval atomyang berisi semua materi dalam keadaan yang
sangat padat. Atom tersebut mempunyai massa yang sangat besar dan massa
jenis yang sangat besar. Kerena adanya reaksi inti, atom tersebut
kemudian meledak dengan hebat. kemudian massa tersebut mengembang dengan
sangat cepat menjauhi pusat ledakan dan tersebar di alam semesta.
Kemudian akan terjadi ekspansi massa yang berlangsung jutaan tahun dan
akan terus berlangsung.
Dari kedua teori di atas, teori big bang lah yang sekarang menjadi
acuan masyarakat mengenai terbentuknya alam semesta ini. mengenai benar
tidaknya tentang terbentuknya alam semesta ini tentunya hanya Tuhan lah
yang tahu segalanya.
Sumber : http://ilmuonline.net/teori-terbentuknya-alam-semesta/
Teori Terbentuknya Tata Surya
1. Teori Nebula
Dalam teori Nebula, diungkapkan bahwa
pada awalnya sistem tata surya ini terbentuk dari suatu nebula atau
kabut tipis yang sangat luas. Nebula atau massa gas raksasa yang
bercahaya ini berputar perlahan -lahan yang kemudian secara berangsur
-angsur mendingin, mengecil dan mendekati bentuk bola.
Rotasi yang terjadi semakin lama semakin
kencang sehingga mengakibatkan bagian tengah dari massa tersebut jadi
menggelembung. Akibatnya, lingkaran materi tersebut terlempar keluar. Lingkaran inilah yang kemudian
mendingin, mengecil, hingga akhirnya menjadi planet -planet. Planet
-planet yang terbentuk tetap mengorbit mengeliling inti massa. Sementara
lingkaran lain terlempar lagi dari pusat massa sehingga menjadi seluruh
planet yang kita kenal sekarang ini, termasuk bumi.
Pusat massa tersebut adalah matahari.
Berikutnya, planet -planet yang ada juga melemparkan massa-nya keluar
angkasa sehingga berubah menjadi satelit seperti bulan yang dimiliki
oleh bumi.
Teori Nebula diketahui muncul pertama kali pada abad XVIII yang diawali oleh pendapat dari seorang filsuf Jerman bernama Immanuel Kant. Pendapat Kant mengenai tata surya yang terbentuk dari nebula ini kemudian diperkuat oleh Marquis de Laplace (Piere Simon), yang merupakan seorang astronom Prancis.
Teori Nebula diketahui muncul pertama kali pada abad XVIII yang diawali oleh pendapat dari seorang filsuf Jerman bernama Immanuel Kant. Pendapat Kant mengenai tata surya yang terbentuk dari nebula ini kemudian diperkuat oleh Marquis de Laplace (Piere Simon), yang merupakan seorang astronom Prancis.
Teori yang diungkapkan oleh Laplace
lebih merupakan penjelasan pendapat Kant. Meski Laplace pun tidak
mengetahui sumbangan dari pemikiran kant dalam teorinya tersebut. Karena
berasal dari pemikiran dua ahli ini, maka teori Nebula juga sering
disebut sebagai Teori Kant -Laplace.
2. Teori Planetesimal
Yang dimaksud dengan planetesimal
merupakan suatu benda padat kecil yang bergerak mengelilingi suatu inti
yang bersifat gas. Teori planetesimal mengemukakan bahwa suatu ketika
sebuah bintang melintasi ruang angkasa dengan cepat dan berada sangat
dekat dengan matahari.
Bintang yang melintas tersebut rupanya
memiliki daya tarik yang besar sekali sehingag mengakibatkan pasang di
bagian gas panas matahari. Karenanya, terdapatlah massa gas dari
matahari yang terlempar keluar dan mulai mengorbit pada matahari.
Namun, karena daya tarik yang masih
banyak dimilki matahari, maka massa gas tersebut tertahan dan bergerak
mengeliling matahari. Massa gas ini lama kelamaan menjadi dingin dan
bentuknya menjadi cairan yang lalu memadat. Massa tersebutlah yang saat
ini kita kenal sebagai planet, termasuk untuk bumi kita.
Teori Planetesimal ini muncul pertama
kali sekitar tahun 1900. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh seorang
astronom bernama Forest Ray Moulton serta seorang ahli geologi bernama
T.C. Chamberlain dari Universitas Chicago.
Teori planetesimal ini didasarkan pada
pengamatan bahwa beberapa bintang di langit nampak tidak pernah berhenti
bergerak. Suatu ketika, bintang yang terus bergerak tersebu melintas
sangat dekat dengan Matahari.
Lalu karena adanya gaya gravitas, maka
terjadilah gaya tarik menarik antara matahar dan bintang yang melintas
tersebut. Terjadilah pasang yang mengakibatkan terbentuknya planet
-planet. Planet yang terbentuk ini yang mungkin mengikuti bintang yang
lewat tadi.
3. Teori Pasang Surut
Teori pasang surut atau teori pasang ini
juga terkadang disebut sebagai teori ide benturan. Dalam teori pasang
surut atau teori ide benturan ini, disebutkan bahwa planet -planet
awalnya terbentuk secara langsung oleh gas asli matahari yang tertarik
oleh bintang yang melintas sangat dekat dan nyaris bersinggungan dengan
matahari.
Teori ini memang hampir sama dengan
teori planetesimal. Hanya bedanya, pada teori pasang surut ini planet
tidak terbentuk oleh planetesimal. Teori ini menyebutkan bahwa saat
bintang berada sangat dekat dengan matahari, ada tarikan gravitasinya
yang menyedot filament gas yang berbentuk cerutu panjang.
Filament ini membesar di bagian tengah
dan mengecil di kedua ujungnya. Dari filament inilah, kemudian terbentuk
sebuah planet. Pendapat ini dicetuskan pertama kali oleh Sir James
Jeans dan Sir Harold Jeffreys dari Inggris pada tahun 1918.
Jeans dan Jeffreys beranggapan bahwa
kelahiran Tata Surya adalah suatu peristiwa langka. Sebab, perisitiwa
ini terjadi saat matahari nyaris bersinggungan dengan sebuah bintang.
Peristiwa yang menyebabkan lidah matahari jadi berbentuk seperti cerutu
ini juga menjadi penjelasan logis tentang ukuran planet yang berbeda
satu sama lain.
4. Teori Lyttleton atau Teori Bintang Kembar
Teori lyttleton atau yang juga sering
disebut sebagai teori bintang kembar ini mengemukakan bahwa mulanya
matahari merupakan bintang kembar yang mengelilingi sebuah medan
gravitasi. Tapi, ada sebuah bintang yang menabrak salah satu bintang
kembar tersebut dan mungkin menghancurkannya.
Bintang yang hancur tersebut lantas
berubah menjadi massa gas yang berputar-putar. Karena terus berputar,
maka massa gas itu berubah dingin dan membentuk planet – planet.
Sementara satu bintang lain yang bertahan menjadi pusat tata surya yang
kita kenal sebagai matahari.
Matahari mampu menahan planet yang
terbentuk tersebut karena memiliki kekuatan gravitasi. Karenanya, planet
-planet dapat beredar menurut lintasannya mengelilingi matahari. Karena
anggapan pembentukan tata surya ini karena adanya suatu benturan, maka
itu sebabnya teori ini juga dikenal sebagai teori ide benturan.
Teori Lyttleton ini dicetuskan oleh R.A.
Lyttleton yang merupakan seorang astronom. Ia melakukan modifikasi
terhadap teori benturan yang sebelumnya pernah ada. Namun, teori yang
diungkapkan Lyttleton ini dianggap memiliki penjelasan yang lebih baik
mengenai asal mula Tata Surya berdasarkan teori benturan.
5. Teori Awan Debu
Teori Awan Debu mengungkapkan bahwa
calon Tata Surya awalnya adalah awan yang sangat luas. Awan ini terdiri
dari debu dan gas kosmos yang diperkirakan berbentuk seperti sebuah
piring.
Namun, terdapat ketidakteraturan dalam
awan tersebut yang menyebabkan terjadinya perputaran sehingga gas dan
debu yang berputar berkumpul jadi satu. Sementara debu dan gas ini terus
berputar, awan tersebut pun menghilang.
Lalu, partikel -partikel debu yang keras
saling berbenturan, melekat dan berubah menjadi planet. Lalu berbagai
gas yang ada di tengah -tengah awan berkembang dan menjadi matahari.
Teori Awan Debu ini dicetuskan oleh Fred L. Whippel yang merupakan seorang astronom asal Amerika Serikat. Jika ditelusuri dari prosesnya, teori ini seolah merupakan pengembangan teori Nebula.
Selain apa yang diungkapkan oleh Fred L.
Whippel, ada juga astronom Inggris bernama Fred Hoyle dan astronom
Swedia bernama Hannes Alven yang mengungkapkan teori yang serupa dengan
teori Awan Debu.
Mereka berpendapat bahwa pada mulanya
Matahari berputar dengan cepat dengan piringan gas di sekelilingnya.
Jika merujuk pada penelitian era modern, Matahari dikatakan berputar
kira-kira satu kali dalam 27 hari.
Sementara perhitungan mutakhir juga
menunjukkan bahwa Matahari primitif berputar lebih cepat sehingga
memungkinkan terlemparnya bahan -bahan yang kemudian membentuk planet.
Hal inilah yang mendukung teori awan debu ini.
6. Hipotesis Kuiper
Dalam Hipotesis Kuiper, dikemukakan
bahwa alam semesta ini pada awalnya terdiri dari formasi bintang
-bintang. Lalu, terdapat dua pusat yang memadat dan berkembang dalam
suatu awan antarbintang dari gas hydrogen.
Satu pusat lebih besar daripada pusat
yang lainnya. Satu pusat yang lebih besar ini kemudian memadat dan
menjadi bintang tunggal yang kita kenal sebagai matahari.
Hipotesis ini dikemukakan oleh Gerard P
Kuiper (1905 – 1973). Karena masih merupakan hipotesis dan belum
dianggap sebagai teori yang memiliki dasar kuat, pendapat Kuiper ini
lumayan jarang digunakan.
Sumber : https://portal-ilmu.com/teori-teori-pembentukan-tata-surya/
Lapisan Lapisan Planet Bumi dan Fungsinya
Atmosfer
Fungsi Atmosfer,
Atmosfer mempunyai fungsi untuk mengatur proses penerimaan panas dari matahari, caranya adalah dengan menyerap dan pemantulkan panas yang dipancarkan oleh matahari. Kurang lebih 34% panas matahari dipantulkan kembale ke angkasa oleh atmosfer, awan dan juga permukaan bumi, lalu sekitar 19% diserap oleh atmosfer dan awan, dan kemudian sekitar 47% sisanya baru mencapai permukaan bumi.
Lapisan Lapisan Planet Bumi dan Fungsinya
Atmosfer
Fungsi Atmosfer,
Atmosfer mempunyai fungsi untuk mengatur proses penerimaan panas dari matahari, caranya adalah dengan menyerap dan pemantulkan panas yang dipancarkan oleh matahari. Kurang lebih 34% panas matahari dipantulkan kembale ke angkasa oleh atmosfer, awan dan juga permukaan bumi, lalu sekitar 19% diserap oleh atmosfer dan awan, dan kemudian sekitar 47% sisanya baru mencapai permukaan bumi.
Troposfer
Yaitu merupakan sebuah lapisan dimana
manusia masih sanggup untuk melakukan pernafasan secara bebas. Pada
lapisan troposfer inilah fenomena cuaca dan iklim sering terjadi. Pada
lapisan ini juga merupakan lapisan atmosfer yang paling banyak
mengandung uap air dan karbon dioksida jika di bandingkan dengan lapisan
atmosfer lainnya.
Stratosfer
Yaitu merupakan sebuah lapisan yang
sangat dingin yang ditinggali oleh lapisan ozon. Fungsi utama lapisan
ini adalah sebagai tirai pelindung dari paparan sinar ultraviolet yang
berasal matahari dan sangat berbahaya bagi kehidupan makhluk hidup yang
ada di muka bumi. Lapisan ozon akan mengalami kerusakan jika manusia
terus-terusan melakukan aktivitas dengan menggunakan bahan kimia.
Mesosfer
Yaitu merupakan sebuah lapisan yang
letaknya tepat diatas lapisan stratosfer pada ketinggian 50 – 75 km.
Seperti halnya yang terjadi pada lapisan troposfer, lapisan mesosfer ini
terjadi penurunan suhu di setiap bertambahnya ketinggian, tetapi
penurunan suhu di lapisan ini berkisar 0,4 drajad Celcius setiap
bertambahnya ketinggian 100 meter. Permukaan mesosfer suhunya sekitaran
10 drajat celcius, sedangkan puncaknya sekitaran -120 drajat celcius.
Pada lapisan ini sebagian besar meteor terbakar dan terurai.
Termosfer (Ionosfer)
Yaitu disebut juga dengan lapisan
ionosfer, dimana pada lapisan ini terjadi proses ionisasi dari
partikel-partikel yang bisa memberikan efek perambatan atau refleksi
gelombang radio, baik itu gelombang panjang maupun pendek.
Eksosfer
Yaitu merupakan sebuah lapisan
terjadinya gerakan berbagai atom yang bergerak secara tidak beraturan.
Pada lapisan eksosfer ini juga merupakan lapisan paling panas dan
molekul udara bisa meninggalkan atmosfer sampai dengan ketinggian 3.150
km dari permukaan bumi. Lapisan ini disebut juga ruang antar planet dan
geostationer. Lapisan eksosfer ini juga merupakan lapisan yang sangat
berbahaya, karena disinilah tempat terjadi kehancuran meteor atau benda
asing dari luar angkasa.
Sumber : http://definisipengertian.net/pengertian-atmosfer-lapisan-fungsi-dan-manfaat/
Teori Terbentuknya Planet Bumi
Teori Kuiper
Gerald P. Kuiper mengemukakan bahwa pada mulanya ada nebula besar berbentuk piringan cakram Pusat piringan adalah protomatahari, sedangkan massa gas yang berputar mengelilingi protomatahari adalah protoplanet. Dalam teorinya, dia juga memasukkan unsur - unsur ringan, yaitu hidrogen dan helium. Pusat piringan yang merupakan protomatahari menjadi sangat panas, sedangkan protoplanet menjadi dingin. Unsur ringan tersebut menguap dan mulai menggumpal menjadi planet - planet.
Teori Tidal
Dua
orang ilmuwan Inggris, James Jeans dan Harold Jeffreys, pada tahun 1918
mengemukakan teori tidal. Mereka mengatakan pada saat bintang melintas di dekat
matahari, sebagian massa matahari tertarik ke luar sehingga membentuk semacam
[cerutu].Bagian yang membentuk cerutu ini akan mengalami pendinginan dan
membentuk planet - planet, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter,
Saturnus, Uranus, dan Neptunus
Teori oleh Georges-Louis Leclerc
Pada tahun 1778 ahli ilmu alam Perancis Georges-Louis
Leclerc, Comte de Buffon, mengemukakan bahwa dahulu kala terjadi tumbukan
antara matahari dengan sebuah komet yang menyebabkan sebagian massa matahari
terpental ke luar. Massa yang terpental inilah yang menjadi planet.
Sumber : Glasstone, Samuel. The Element of Nuclear Reactor Theory, D. Van Nostrand Company Inc., New York, 1958. Page 106-108.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar